Seaman personal blog

Indonesian seafarer

Browsing Posts in 2ND/OFF

    Oleh Mas Edy
    On shore, Corrected, 11 Nov 2010
    Perbarui: 26/02/16 Indian Ocean ( Judul dan isi )
    Noltime.com | Selain keperluan hitung pelayaran, bagi anda yang menjalankan ibadah puasa di atas kapal khususnya orang deck, penting untuk mengetahui cara perhitungan sunset dan sunrise agar bisa menentukan;
    1. Kapan waktu magrib matahari terbenam/sunset untuk berbuka puasa.
    2. Kapan waktu sahur, sebelum matahari terbit/sunrise.
    Dalam dunia astronomi dikenal beberapa waktu dalam pengamatan benda angkasa, yaitu; Senja Sivil, Senja Nautik dan Senja Astronomi.
    Sekedar berbagi, saya coba mencatat singkat panduan bagaimana cara dan langkah – langkah melakukan perhitungan  sunset dan sunrise tersebut sepeti berikut ini:

continue reading…

 

Oleh Mas Edy

On shore 25 Aug 2010

 

         

Noltime.com MENGHITUNG LHA MATAHARI DAN DECLINATION

Apa sih L.H.A itu? … pertanyaan timbul di benak anda. Kalo kita baca kepanjangan  L.H.A di dalam buku tentu adalah Local Hour Angle.

Secara gamblang artinya sudut local jam matahari. Local artinya posisi di Bujur mana di bumi ini anda mengadakan pengamatan terhadap sebuah object benda angkasa. Jadi sudut Local artinya sudut dari posisi Bujur anda sendiri yang melakukan pengamatan terhadap benda angkasa tersebut. Contoh anda silahkan berdiri di tempat terbuka menghadap lah ke utara, kemudian sekarang letak matahari ada di mana?? ok.. matahari di sebelah kanan anda atau di timur. Rupanya masih pagi hari baru terbit matahari nya.  Berarti sudut lokal nya kira-kira 270°. Kemudian matahari perlahan – lahan bergerak trus ke atas (begerak ke barat) maka itu sama artinya sudut lokal matahari akan bergerak trus naik dari 270° 271° 272° 273° 274° 275° 276° 277° 278° 279°…. dan seterus nya hingga 360° atau 000° berarti matahari berada tepat tegak lurus di atas kepala anda. Kemudian matahari akan bergerak perlahan terus ke barat maka sudut lokal nya akan begerak turun seperti ini 358° 359° 360° 001° 002° 003°…. dan seterus sampai ke 090° matahari mulai tenggelam di keremangan langit barat waktu nya mulai memasuki malam hari.

Jadi logika nya seperti itu. Setelah anda memahami itu maka akan lebih mudah men-definisikan apa itu L.H.A. Saya mundur sedikit kebelakang menengok istilah yang lain yaitu GHA.

True Azimuth

6 comments
Oleh Mas Edy
On shore  15 Aug 2010
Perbarui: 28/02/16 ( Indian Ocean )

 

Noltime.com Melanjutkan cerita saya mengenai cara hitung error compass pada postingan saya sebelunya salah satu janji saya adalah “True Azimuth”

True Azimuth didapat dari perhitungan kecil membuka Nautical Almanac dan Daftar Ilmu Pelayaran atau Norie`s Nautical Tables atau juga calculator menggunakan formula / rumus.

 

Pada STEP II. True Azimuth ini,

Perlu dipahami bahwa “True Azimuth” bisa anda dapat apabila ada 3 macam hal lain terlebih dahulu sudah anda ketahui.

3 hal yang saya maksudkan adalah: LHA matahari, Lintang anda, dan Declinasi matahari. Itu saja tiga poin tersebut apabila anda telah ketahui maka kita bisa mendapakan True Azimuth.

 

Penjelasan singkat:

  1. LHA matahari didapat dari Nautical Almanac dengan sedikit perhitungan kecil. Tidak ada nories nautical tables atau tabel apa pun yang dibutuhkan disini. Murni hanya nautical almanac.
  2. Posisi Lintang Observasi, di-dapat dari posisi GPS kapal anda.
  3. Declination didapat dari Nautical Almanac dengan tambahan sedikit koreksi. ini juga tidak dibutuhkan nories table.

 

Nah, dari 3 point tersebut di atas yang sudah anda ketahui tentu adalah point nomor 2 “Posisi Lintang Observasi” ( karena anda langsung nyontek dari GPS kapal )

Tetapi poin no.1 dan 3 belum anda ketahui. Betul ?

continue reading…

Compass Azimuth

2 comments

Oleh Mas Edy

On shore 14 August 2010

 

Noltime.com Pengalaman saya dalam menghitung error compass, banyak Officer maupun cadet yang sibuk terlebih dahulu dengan membayangkan perhitungan yang begitu rumit sebelum ia benar – benar melaksakan nya. Maka alhasil "malas" dan "banyak pekerjaan" sehingga tidak sempat mengambil error kompas begitu alasan nya.

Maka ada baik nya anda fokuskan pikiran anda hanya pada dua hal saja yaitu :

  1. Compass Azimuth dan
  2. True Azimuth

 

Compass Azimut, anda tidak perluh menghitung untuk mendapatkan nya tetapi melakukan pembaringan langsung terhadap matahari. Sedangkan..

 

True Azimuth di dapat dari perhitungan kecil membuka Nautical Almanac dan Daftar Ilmu Pelayaran atau juga Norie`s Nautical Tables.

Setelah anda melakukan kedua hal itu, maka error compas pun dapat di ketahui.

Mari kita memulai pelaksanaan dengan:

continue reading…

Hitung Compass Error

Comments off
Oleh Mas Edy
On Shore 11 August 2010
Perbarui: 02/Mar/2016 ( Judul dan Isi )

 

Noltime.com Saya akan bercerita sedikit tentang  bagaimana mencari Compass Error, tapi pasti teman2 suda taulah … Ok. Namun ini gaya bahasanku. nanti akan saya uraikan dengan santai dalam 2 atau 3 bagian postingan secara terpisah, supaya teman2 yang belum paham benar akan mengerti Menghitung Compass Error.

Apa itu TRUE AZIMUTH dan COMPASS AZIMUTH, metode perhitungan menggunakan "NORIE`S NAUTICAL TABLES" dan juga calculator dengan menggunakan formula atau rumus.

Yang menjadi poin pertanyaan saya hingga masalah compass error ini saya tulis adalah “Sudah kah anda mengerjakan minimal salah satu Deck Officer atau cadet di anjungan untuk mengisi buku jurnal kompas dengan prosedur dan perhitungan mulai dari membaring matahari sampai pada orek2an di atas kertas hingga mendapat baringan sejati matahari atau True Azimuth?”.

Persoalan:

Banyak dari kita deck officer yang sibuk terlebih dahulu dengan membayangkan perhitungan yang begitu rumit sebelum ia benar – benar melaksanakan nya. Maka yang ada malas, banyak pekerjaan lah. dll. sehingga tidak sempat mengambil compass error. itulah alasan klasik.Open-mouthed smile

Distance table online

51 comments

Oleh Mas Edy

Updated 10 August 2011 ( Pada bagian akhir artikel)

Tulisan ini timbul setelah saya mendapat kesulitan untuk mencari jarak port to port dimana saya mendapat job mengantar atau delivery sebuah kapal.

Persoalan yg saya ingin mencari solusinya adalah saat saya mendapatkan tawaran tsbt tentu saya masih di darat dan bagaimana cara nya agar saya bisa mengetahui kira2 estimate time under way, ETA atau estimate kapan kapal berangkat dari pelabuhan dan kapan akan tiba tujuan??.. Wah belum join kapal uda pusing2 ngitung jarak di darat. Tentu ini bukan tanpa alasan, mengapa saya mencari solusi untuk hal ini ??. Alasan nya adalah karena saya sudah lebih dulu menunggu join kapal di sebuah perusahaan, Tapi karena masih stand by maka tak ada salahnya saya mengantar kpl lain untuk waktu beberapa hari, lumayan bisa buat tambahan uang saku.Jadi abis ngantar kapal kembali untuk memenuhi panggilan company lama hehe2.. Ok.

Pada tulisan saya terdahulu saya memberikan tips koreksi peta, tide predictions online Sakarang mencari jarak dgn cepat gaya mobile. Jadi cara ini bisa untuk panduang membuat garis haluan agar jarak tidak terlampau jauh dari distance table. Terutama untuk pelayaran ocean going, great circle dan juga membantu bagi anda yang tidak mau repot membuka Admiralty Distance Table.

Semua kepraktisan tentu butuh pengorbanan juga. yah butuh online. Barangkali ada software distance table yang bisa anda install di pc anda dan bekerja offline, tetapi tips ku ini bekerja secara online anda hanya perlu koneksi ke internet dimana pun anda berada. Lalu kunjingilah link yang saya tulis pada akhir artikel ini. Bagian updating records

Leaving from (masukan pelabuhan keberangkatan)

Going to (masukan pelabuhan tujuan)

Time begin (masukan jam keberangkatan. Disini tidak ada pilihan untuk date karena di anggap tanggal nya adalah tanggal saat anda melakukan perhitungan)

Speed (masukan speed rata-rata kapal anda)

continue reading…

Mualim II Traffic management

Comments off

Di rangkum oleh Mas Edy

On shore, 6 February 2010

Mates were in high demand during World War II.

The International Regulations for Preventing Collisions at Sea are a cornerstone of safe watchkeeping. Safety requires that one live these rules and follow the principles of safe watchkeeping. Maximizing bridge teamwork, including Bridge Resource Management is an emerging focus in watchkeeping.

The main purpose for Radar and Automatic Radar Plotting Aids (ARPA) on a ship’s bridge are to move safely among other vessels. These tools help to accurately judge information about prominent objects in the vicinity, such as:

• range, bearing, course and speed

• time and distance of closest point of approach

• course and speed changes

These factors help the officer apply the COLREGS to safely maneuver in the vicinity of obstructions and other ships.

Unfortunately, radar has a number of limitations, and ARPA inherits those limitations and adds a number of its own. Factors such as rain, high seas, and dense clouds can prevent radar from detecting other vessels. Conditions such as dense traffic and course and speed changes can confuse ARPA units. Finally, human errors such as inaccurate speed inputs and confusion between true and relative vectors add to the limitations of the radar/ARPA suite.

The radar operator must be able to optimize system settings and detect divergences between an ARPA system and reality. Information obtained from radar and ARPA has to be treated with scrutiny: over reliance on these systems has sunk ships. The officer must understand system performance. Examples include limitations and accuracy, tracking capabilities and limitations, and processing delays, and the use of operational warnings and system tests.

Mualim II Navigation

Comments off

Di rangkum oleh Mas Edy

On shore, 5 February 2010

 

While a ship is underway, the officers navigate it, typically in three shifts or watches.

Celestial, terrestrial, electronic, and coastal navigation techniques are used to fix a ship’s position on a navigational chart. Accounting for effects of winds, tides, currents and estimated speed, the officer directs the helmsman to keep to track. The officer uses supplemental information from nautical publications, such as Sailing Directions, tide tables, Notices to Mariners, and radio navigational warnings to keep the ship clear of danger in transit.

Safety demands the mate be able to quickly solve steering control problems and to calibrate the system for optimum performance. Since magnetic and gyrocompasses show the course to steer, the officer must be able to determine and correct for compass errors.

Weather’s profound effect on ships requires the officer be able to interpret and apply meteorological information from all available sources. This requires expertise in weather systems, reporting procedures, and recording systems.

Mualim II Sea watch

1 comment

Di rangkum oleh Mas Edy

On shore, 05 February 2010

At sea, the mate on watch has three fundamental duties: to navigate the ship, to safely avoid traffic, and to respond to emergencies. Mates generally stand watch with able seamen who act as helmsman and lookout. The helmsman executes turns and the lookout reports dangers such as approaching ships. These roles are often combined to a single helmsman/lookout and, under some circumstances, can be eliminated completely. The ability to smartly handle a ship is key to safe watchstanding. A ship’s draught, trim, speed and under-keel clearance all affect its turning radius and stopping distance. Other factors include the effects of wind and current, squat, shallow water, and similar effects. Shiphandling is key when the need arises to rescue a man overboard, to anchor, or to moor the ship.

The officer must also be able to transmit and receive signals by Morse light and to use the International Code of Signals

Mualim II Watchstanding

Comments off

Di rangkum oleh: Mas Edy

On shore, 4 February 2010

 

A second mate is almost always a watchstander. In port and at sea, the second mate is responsible to the captain for keeping the ship, its crew, and its cargo safe for eight hours each day. Traditionally, the second mate stands a "12-4" watch: from midnight until 4am and noon until 4pm. On watch, he must enforce all applicable regulations, such as safety of life at sea and pollution regulations. In port, the watch focuses on duties such as cargo operations, fire and security watches, monitoring communications, and the anchor or mooring lines.

IMO regulations require the officer be fluent in English. This is required for a number of reasons, such as to use charts and nautical publications, understand weather and safety messages, communicate with other ships and coast stations, and to be able to work with a multi-lingual crew

Rangkum oleh Mas Edy

On Shore, 03 February 2010

A second mate (2/M) or second officer is a licensed member of the deck department of a merchant ship. The second mate is the third in command and a watchkeeping officer, customarily the ship’s navigator. Other duties vary, but the second mate is often the medical officer and in charge of maintaining distress signaling equipment. On oil tankers, the second mate usually assists the chief mate with the tank-cleaning operations.

The navigator role focuses on creating the ship’s passage plans. A passage plan is a comprehensive, step by step description of how the voyage is to proceed from berth to berth. The plan includes undocking, departure, the en route portion of a voyage, approach, and mooring at the destination.

The GMDSS officer role consists of performing tests and maintenance, and ensuring the proper log-keeping on the ship’s Global Maritime Distress Safety System equipment. Safety equipment includes Emergency Position-Indicating Radio Beacons, a NAVTEX unit, INMARSAT consoles, various radios, Search and Rescue Transponders, and Digital Selective Calling systems.

Oleh: Mas Edy

On shore, 21 January 2010

 

‘International Safety Management (ISM) Code means the International Management Code for the safe Operation of Ships and for Pollution Prevention

The purpose of ISM Code is:

* To ensure Safety at Sea

* To prevent human injury or loss of life

* To avoid damage to the environment and to the ship.

SOLAS adopted the ISM Code in 1994 and incorporated it into chapter IX. By 1998 much of the commercial shipping community was required to be in compliance with the ISM code. By 2002 almost all of the international shipping community was required to comply with the ISM Code.

continue reading…

MARPOL POLLUTION – 73/78

4 comments

Oleh: Mas Edy

On shore, 20 January 2010

 

MARPOL POLLUTION – 73/78

Marpol contains 6 annexes, concerned with preventing different forms of marine pollution from ships:

Annex I: Prevention of pollution by oil

Annex II: Control of pollution by noxious liquid substances

Annex III: Prevention of pollution by harmful substances in packaged form

Annex IV: Prevention of pollution by sewage from ships

Annex V: Prevention of pollution by garbage from ships

Annex VI: Prevention of Air Pollution from Ships

1. Annex I : Peraturan pencegahan pencemaran yang ditimbulkan oleh minyak (Oil) in bulk.

2. Annex II : Peraturan pencegahan pencemaran yang ditimbulkan oleh cairan berbahaya dalam bentuk curah ( Noxious liquid substances in bulk )

3. Annex III : Peraturan pencegahan pencemaran yang ditimbulkan oleh Zat – Zat berbahaya dalam kemasan ( Harmfull substances in package )

4. Annex IV : Peraturan pencegahan pencemaran yang ditimbulkan oleh pembuangan kotoran ( Sewage )

5. Peraturan pencegahan pencemaran yang ditimbulkan oleh Sampah ( Garbage ).

6. Peraturan pencegahan pencemaran yang ditimbulkan oleh Pencemaran udara ( Air pollution )

Isi dalam MARPOL bukan melarang pembuangan zat-zat pencemar ke laut, tetapi mengatur cara pembuangan nya. Agar dgn pembuangan tersebut laut tidak tercemar ( rusak ), dan ekosistim laut tetap terjaga.

Seperti pada Annex I , kapal masih membuang minyak kelaut dgn ketentuan :

continue reading…

 

Oleh: Mas Edy

On shore, 19 January 2009

Selang pemuatan harus sesuai spesifikasi standar penguasa nasional seperti British Standards Institution (BS 1435) atau sesuai rekomendasi OCIMF.

Selang harus di gunakan sesuai fungsinya, untuk penggunaan biasa ada tiga macam/tipe:

# R – rough bore, adalah selang yang di perkuat dengan kawat di gunakan untuk penggunaan berat (heavy ducy), utk sub marine dan floating adalah R X M.

# S – smooth bore, Selang yg tidak di perkuat dgn lilitan kawat, di gunakan utk keperluan lebih ringan ( lighter) utk floating & sub marine adalah S X M.

# L – light weight, untuk keperluan-keperluan ringan misalnya bunkering.

Selang tidak boleh digunakan melebihi klafikasinya. Klafikasi selang adalah berdasarkan besarnya tekanan atau besarnya kecepatan aliran (flow velocity). Sesuai spesifikasi OCIMF maka;

L & S dengan flow velocities 12 m/scc (40 feet / sec)

R dengan flow velocities 15 m.scc (50 feet / sec).

TESTING SELANG

Testing harus dilaksanakan secara berkala dan

continue reading…

Powered by WordPress Web Design by SRS Solutions © 2017 Seaman personal blog Design oleh Arnold