" Menyongsong Badai "

Di tulis oleh: Prasongko C/O

26 January 2009

 

Kapal Bima 1 diambil dari bahasa (Jawa)
Indonesia bernakhodakan Capt Damar Samudro tetapi berbendera Panama,sungguh ironis sekali. Kapal dengan panjang 315 m itu kini dalam komandoku. Ya kira-kira tiga kali panjang lapangan sepak bola. Route pelayaran pun berubah, kini menjadi antarnegara. Pernah kutanyakan pada bagian operasional dan perawatan kapal, kenapa kapal milik BUMN ini berbendera Panama? Bukankah kita bisa dan lebih bangga kalau merah putih berkibar di kapal, bahwa kapal Indonesia pun mampu melakukan pelayaran samudera seperti bangsa-bangsa maritim lainnya. Dengan alasan yang diplomatis bagian operasional dan perawatan pun menjelaskan alasannya. Entah alasan itu benar atau salah menurutku, tetapi jelas membuat hatiku kecewa kalau BUMN saja tidak berkenan menggunakan Biro Klasifikasi Indonesia (BKI),

 

lantas apakah mungkin perusahaan swasta dan asing mau menggunakan merah putih sebagai klasifikasinya? Bukan hanya negara tetapi juga masyarakat kita memang suka dengan yang berbau luar negeri. Dalam suatu kesempatan rapat di kantor pusat yang dihadiri nakhoda dan kepala bagian beserta staf, disampaikanlah beberapa laporan kerja dan program masing-masing bagian. Lagi yang membuatku kecewa, rapat yang dihadiri seratus persen WNI, tetapi kenapa mereka sering menggunakan selipan-selipan kata dengan menggunakan bahasa Inggris. Tidak diragukan lagi yang hadir dalam rapat pasti bias berbahasa Inggris juga diriku. Alangkah pantasnya jika di ruang sidang itu kita gunakan Bahasa Indonesia yang benar. Bahasa negara manapun boleh kita pelajari, tetapi setidaknya berbanggalah kita pada Bahasa Indonesia. Jauh beberapa tahun lalu 28 Oktober 1928 pemuda Indonesia bersepakat, Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan. Walaupun aku tahu bangsa Indonesia tidak harus seperti bangsa Inggris yang harus melakukan ekspansinya ke Negara lain sehingga bahasa mereka digunakan di dunia Internasional. Aku jadi ingat guru SMPku dulu yang mengatakan Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional dan Bahasa Inggris adalah bahasa Internasional. Hingga saat ini tidak kujumpai peraturan atau ketetapan pemerintah RI yang mengatakan Bahasa Inggris adalah bahasa Internasional. Ataupun mungkin melalui TAP MPR/RI atau Keppres, wah….. itu tidak mungkin terjadi. Kapal Bima 1 pun berlayar dari Teluk Lampung menuju Vladivastok (Rusia). Kepulauan Nusantara pun terlalui hingga di pintu terluar NKRI kepuauanAnabas dan memasuki Laut Cina Selatan. Gelombang pun mulai tinggi dengan kecepatan angin yang bertambah. Awak kapal pun masih tenang-tenang saja, karena hal ini adalah biasa bagi kami. Sebagai rutinitas perwira radio melaporkan berita acara pada nakhoda,hal ini masih dalam batas wajar. Tiga hari pelayaran tepat melintang Vietnam, cuaca semakin buruk, mendung tebal dan gerimis. Jarak tampak tidak lebih dari 20m saja. Aku pun sebagai Nakhoda lebih hati-hati dan teliti. Kukumpulkan semua perwira navigasi untuk berdiskusi dan Bima 1 masuk daerah “Gale” (cuaca buruk) awal terbentuknya badai tropik. Mesin fax cuaca selalu kumonitor, Inmarsat (satelit maritim) tidak henti-hentinya berbunyi, membuktikan kami memasuki daerah badai tropik. Benar dari beberapa laporan stasiun pantai Yamaghuci dan Hongkong tergambar jelas Badai Tropik telah terbentuk di sebelah Timur Taiwan tepatnya laut China Timur. Dengan diameter putaran 112 Mil,Kecepatan putaran 107 Mil/jam arah perpindahan Tenggara 12 Mil/jam. Sebagai Nakhoda akupun mulai gelisah tapi tak pantas kutunjukkan kegelisahanku itu pada anak buah kapal. Mulai kuperhitungkan kecepatan kapalku dengan kecepatan arah perubahan mata badai tropik. Situasi di kapal pun mulai tegang dan gelisah, apalagi setelah anemometer mengalami kenaikan kecepatan angin dan Bharometer mengalami penurunan tekanan secara terus menerus. Bima 1 yang besar gagah dan dipenuhi alat navigasi yang canggih mulai sulit dikendalikan, terombang-ambing tak berirama. Hujan lebatpun turun disertai tiupan angin yang sangat kencang. Salah satu ABK berteriak, “Capt! Salah satu penolong di sisi kapal terlepas dari ikatannya” Benda seberat 120 Kg itu melesat seperti layang-layang. Jam kapal menunjukkan 14.05GMT tapi sungguh sulit dibedakan antara siang dan malam. Berita marabahaya terus terdengar yang menginformasikan beberapa kapal telah tenggelam dan nasib awak kapalnya belum diketahui. Untuk bersembunyi di kepulauan Vietnam dan China masih terlalu jauh, itupun tempat yang belum tentu aman. Pelayaran harus diteruskan walau resiko yang besar akan menghalang. Di hari ke lima tidak ada perubahan cuaca dan secara mengejutkan mata Badai Tropik berubah menuju arah Timur kecepatan 11 mil/jam. Perkiraan Stasiun Yamaghuci dan Hongkong meleset. Perkiraanku dengan segala perhitungan dan alat navigasi yang nyaris sempurna tiada berguna. Jarak mata Badai Tropik semakin mendekat dan Bima1 tak berirama, sambil berulangkali haluan dan badan kapal terbenam oleh gulungan gelombang 30 M. Atas perintahku perwira radio mengumumkan bahwa seluruh crew harus bersiaga dengan rompi pelampung dan siap di posisi yang ditentukan. Kucoba mengendalikan kapal sebisa mungkin. Semua teori yang kutahu telah kulaksanakan tanpa hasil yang berarti. Terdengar bunyi keras yang menghantam atap anjungan, kami pun terkejut bukan kepalang. Teriakan keras kembali terdengar dari ABK “Capt! Kami tengok scaner tiang radar 1 telah patah. Mana bisa kita selamat. Pipa besi berdiameter 150 cm saja patah oleh angin, bagaimana jika diriku berada di luar kapal?.”. “Kapan ini akan berakhir” sela salah seorang juru mudi. “Badai ini akan berakhir atau mungkin kehidupan kita akan berakhir sebelum badai ini berlalu” ku jawab pelan. “Tenannglah wahai teman-temanku dan anak buahku, kini kita telah menyongsong badai, tidak ada tempat bagi kita untuk berlari. Aku Capt. Damar Samudro yang dipercayai menakhodai BIMA 1 telah habis ilmu dan kemampuanku, tetapi harapan membuat manusia menjadi bersemangat untuk hidup”. Tersesak dalam bicara adalah hal biasa untuk keadaan semacam ini. Kulirik beberapa crew meneteskan air mata. Ada juga yang bersujud seperti memohon ampunan atau meminta keselamatan. Sementara salah satu ABK ku, orang Cina yang tidak jelas agamanya kali ini komat-kamit mengucap sesuatu yang tak bisa kudengar .

Terdiam aku untuk beberapa saat mengantarkanku pada masa laluku yang mengharu biru nyaris hilang mengikis harapan karena ambisi dan ego. Aku anak keempat. Semua saudaraku laki-laki. Bapakku seorang polisi berpangkat kopral. Ibuku seorang guru SD. Kami tinggal di asrama karena keterbatasan ekonomi kami. Tidak sedikit biaya yang kami butuhkan. Karena semangat dan doa orangtua yang mengantarku pada Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Negeri. Memang biaya sekolah gratis, sebab tanpa uang mondok, tanpa uang gedung atau uang pembangunan. Tetapi tiap pulang ke kota nelayan, tanah kelahiran tetap butuh dana untuk bus atau kereta kelas ekonomi. Kereta ekonomi kesayanganku. Yang selalu setia dengan pedagang asongannya, ramai seperti pasar rakyat, dan penumpangnya berkeringat tanpa berolah-raga sambil memberikan receh sebagai bunga-bunga sosial pada pengamen yang diiringi gitar dan suara lokomotif. Angin sepoi-sepoi bercampur aroma keringat penumpang beserta bau toilet yang kran airnya macet menghiasi perjalananku. Sedang sehelai tali rafia terikat di daun pintu sebagai pengganti grendel pintu toilet yang rusak.

Sungguh keadaan penuh suka cita yang belum tentu dialami semua orang, terutama orang kaya. Namun hal itu menjadi suatu yang biasa bagiku. Semenjak kecil aku sudah terbiasa dengan bus dan kereta ekonomi. Orang tuaku berpesan agar tetap bisa menjaga diri di manapun aku berada dan selalu beribadah dalam keadaan lapang dan sempit. Lulus ANT 3 kuputuskan memilih perusahaan pemerintah. Masuk BUMN atas fasilitas kampus untuk mahasiswa ber-IPK tertinggi. Kali kedua karena untuk masuk perusahaan ini tanpa mengeluarkan uang charge. Memang armada yang kubawa kurang memenuhi kriteria target kekinianku. Paling tidak Arjuna I ini pijakan awalku. Kapal passanger antarpulau dengan panjang 75m berlayar di perairan Indonesia dengan kapasitas penumpang 600 orang. Sedikit saja timbul kebanggaan
dalam diri. Gajiku memang tidak terlalu besar jika dibandingkan gaji kapal-kapal foreign. Sedikit kesenangan sebab ada beberapa perempuan yang dapat kutemui secara berkala. GA 737 INA landing menuju Bandar Changi airport Singapura. Kupersiapkan paspor dan dokumen yang dibutuhkan. Keluar lorong gate pesawat aku hanya berusaha tenang walaupun sedikit bingung.
Kebingungan menghadapi wanita yang sering kutemui di kantor cabang. Wanita yang kujanjikan untuk kunikahi. Kami sempat dekat. Hanya karena aku tidak sanggup menanti untuk beberapa saat. Akhirnya adat membuatku tunduk untuk menjalin pernikahan dengan wanita Dayak yang kini menjadi istriku. “Igamala wanita yang kurang lebihnya mampu menjadi istri pelaut yang jarang di rumah. Wanita yang kupersiapkan untuk mengasuh dan mendidik anak-anakku kelak” gumamku. Berdiri perempuan cantik keturunan china memegang selembar kertas bertulis “Mr.Damar Samudro”. Agak sedikit kaget kupandang.wanita itu. Dia paling senang dipanggil Veron. Nama kesayangannya. ya dia wanita yang hingga kini masih ada sedikit di hatiku. “Good Afternoon are you Mr.Damar”. Dia masih seperti dulu dengan gaya berselorohnya seakan ia petugas yang menjemputku. Maklum awal jumpa memang ia ditugasi pihak kantor untuk menjemput crew kapal yang baru bergabung. Bisa jadi kantor menyadari kelebihannya sebagai daya tarik. Aku pikir langsung menuju kapal untuk bekerja tetapi setelah dari kantor aku dipersilahkan menginap 1 hari di hotel daerah Alexander Road, karena kapal belum selesai perbaikan. Enak sekali jadi pelaut, naik kapal dan tidur di hotel gratis pikirku, sesuatu yang sesekali kubayangkan saat aku kuliah dulu. Keesokan harinya aku check out dari hotel dan menuju kapal dipelabuhan Tuas sektor 1. Gaji yang kuperoleh kurang dari harapan. Kebutuhanku kini makin besar. Aku tidak lagi bias berjalan selaras dengan gaya hidup orangtuaku yang serba terbatas dan sederhana. Aku harus memenuhi semua keinginan istriku, wanita dayak berkulit putih yang kini hamil 8 bulan. Aku memang beda. Sedikit kesenangan di sela-sela persinggahanku di pelabuhan pun ada arti tersendiri dalam pergaulan kerjaku. Sebagai Nakhoda aku punya kewenangan membuat laporan palsu pada kantor. Yang sering aku melaporkan jumlah penumpang yang tak sebenarnya dengan kenyataan. Kadang penumpang yang kumuat sampai 1250 orang. Jumlah selisih yang ceroboh dan beresiko tinggi. Tetapi inilah usahaku. Di negaraku profesionalisme tidak sebanding dengan penghargaan.
Arjuna I yang kunakhodai pun kriteria kapal untuk pelayaran danau atau sungai. Tetapi atas perintah kantor aku harus mengantarkan penumpang antarpulau. Seandainya saja penumpang itu tahu bahwa jarak yang ditempuh dari Jakarta ke Kalimantan adalah sama dengan jarak pelayaran Indonesia ke Vietnam. Pasti mereka bangga karena beberapa negara telah dilalui sekaligus ngeri karena peralatan keselamatan yang ada tidak memenuhi jumlah di kapal. Gelar tertinggi bidang pelayaran telah kuraih. ANT 1 yang kugenggam yang ikut mengantarku menjadi nakhoda Bima 1 saksi karierku. Segudang ilmu telah kuraih walau aku tahu ilmu takkan pernah habis. Koleksi buku memenuhi lemari di rumah baik yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa Inggris habis kubaca bahkan sambil sesekali kuberikan koreksi terhadap buku-buku pelayaran yang memberikan penjelasan kurang tepat menurutku. Termasuk buku-buku karya dosen-dosenku dulu. Timbullah rasa sombong dalam diriku tanpa terasa. Semuanya menjadi sampah dan hina dihadapan kuasa Illahi. Akupun sadar bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang serba terbatas. Sedang Tuhan adalah tanpa batas. Akupun bersyukur karena Tuhan telah memperlihatkan ayat-ayatnya di hadapanku, yang belum tentu dialami semua orang. Ada kekecutan tersendiri. Penghianatan kepada Pak Kopral yang bersahaja dan bu guru yang syahdu, juga jabang bayi bakal anakku. Seakan turut menarikku dalam kesangsian akan keselamatan awak kapal. Kutarik nafas panjang sambil tersenyum kupandangi anak buahku.

“Apa yang kalian takutkan tentang badai itu, sungguh dia adalah makhluk Tuhan sama seperti kita manusia.Dia berjalan menurut ketentuan-Nya, pantaskah kalian takut dengan badai atau mungkin kalian takut denngan kematian? Pemilik badai itu lebih pantas kalian takuti! Tuhan tak pernah meninggalkan kita tetapi kita yang lemah ini sering meninggalkan pencipta-Nya.” Kelu hatiku… semakin kecil tubuhku… kaku seluruh persendianku. Murninya bukan karena badai ini tapi lebih karena kesombonganku yang mungkin segera menarikku pada kematian. Pada kebinasaanku yang mestinya sebelumnya kusadari itu. Tapi semua terlambat. Kesalahanku yang mungkin tak kan termaafkan oleh orang-orang yang kusayangi sekaligus kukhianati.
Kutatap arah badai itu sambil lantang kuberkata dalam hati “Hai badai, kamu adalah makhluk lemah sama dengan kami disini sebagai makhluk lemah, tetapi kami bersama Tuhan yang kuasa atas segalanya” “Tunjukkan semangat kalian, mati terhormat dengan keyakinan itu lebih pantas bagi kita, walau kita tidak tahu kapan kematian itu tiba”. Lantang kuucap itu. Dengan seketika semua crew serempak bergerak. Kini semua awak tak lagi perhitungkan keadaan diri masing-masing. Kokiku yang sedang muntah-mabuk bergegas ikut membantu klasi yang membersihkan bagian kapal dari genangan air. Semua perwira pun berjaga. Teman-teman yang kutahu rajin sholat sambil mengumandangkan “Allahu Akbar….. Allahu Akbar”. Teman-teman lain yang menurut ceritanya tiap Minggu ke Gereja berkata, “TuhanYesus…. Tuhan Yesus, lindungi kami. Allah Bapa di Surga, sayangi kami”. Kuperintahkan kepada kepala kamar mesin untuk menaikkan putaran mesin sampai putaran maksimal walau itu belum pernah dilakukan nakhoda-nakhoda sebelumku.Risiko mesin mati sangat besar karena baling-baling kapal sering terangkat di permukaan tapi aku yakin mampu menghindar dar mata badai. Kurubah kemudi ke arah kiri secara berirama. Kuingat penggalan syair yang pernah kubaca dari diary istriku. Yang saat itu kutahu dia sedang tak enak hati ketika tahu hal Veron. Tapi buru-buru kutepis, kubilang dia masa laluku.

Detik demi detik
Kuarungi samudera
Bersama luka di hati
Perahuku terombang-ambing
Tanpa kepastian arah
Setiap hari bertemu ombak
Berselimut angin malam
Menusuk persendianku
Aku tenggelam dalam kecemasan*

Di hari berikutnya sampailah BIMA 1 di mulut Selat Taiwan, cuaca buruk masih berlangsung teta pimata badai sudah berada di kanan belakang dari kapal. Air mata pun tanpa terasa meleleh diantara mata anak buahku. Senang dan lega. Keesokan harinya matahari belum terlihat tapi cahayanya cukup menerangi pagi hari. Kami mengadakan pengecekan keliling kapal, kudapati 4 pipa peranginan setinggi 6 M telah hilang, dan tiang radar berikut scanernya telah roboh. Kubuat laporan kerusakan untuk kukirim ke kantor Jakarta. Untuk nantinya dapat diperbaiki di pelabuhan tiba. Hari ke-14 pelayaran telah mengantar BIMA 1 di pelabuhan Vladivastok Rusia. Segera kutelepon orangtua dan istriku. Kuceritakan perjalananku dari Palembang ke Vladivastok cukup menyenangkan dengan cuaca yang bersahabat. Memang aku berbohong pada mereka, tetapi aku tidak mau mereka gelisah karena profesiku. Kuharap aku sudah berada di Tanah Air dikelahiran anak pertamaku. “Biarlah kisah yang dahsyat itu cukup untuk diriku dan teman-temanku, tetapi bukan untuk Igamala.