Skip to content

Posted 28/02/16 Noltime.com
Panduan Drill dan Checklist; Fire

The below team actions are not base on Engine Room Fire. In the case of Fire in the Engine Room, the roles of Team 1 and Team 2 are reversed, but the Team names and members composition remains unchanged.

  1. Stop Engines, if at sea
  2. Sound Emergency Alarm
  3. Assess class of fire, extinguishing agent, method of attack, and deploy. Each Team to have at least one member donned with SCBA set
  4. Commence boundary cooling
  5. Close down ventilation, shut fire dampers, close watertight doors, all doors and skylights
    Remove combustible materials from vicinity
  6. Maintain VHF watch on Channel 16, and 13 if appropriate, call for shore assistance if in port
  7. Exhibit lights/shapes and make any appropriate sound signals Switch on deck lightings at night
  8. If releasing CO2 into E/R, do head count first
  9. Prepare Inmarsat C format for automatic distress transmission
  10. Broadcast DISTRESS ALERT and MESSAGE if the ship is in grave and imminent danger and immediate assistance is required, otherwise broadcast an URGENCY message to ships in the vicinity.

Other Actions:

Posted 27/02/16 Noltime.com
Panduan Drill dan Checklist; Bomb Threat

  1. Sound Emergency Alarm
  2. Refer to “Ship Security Procedure”
  3. Conduct Tool-box meeting with Team 1 and 2, describing details of threats and discuss search pattern
  4. Search Engine Room and all machinery spaces
  5. Search accommodation, store rooms, deck and cargo spaces, all remaining non-machinery spaces
  6. Contact Company, Charterer and Port Authority if in port
  7. Prepare Fire Fighting Equipment
  8. If suspicious package found or bomb identified, contact:
    – Company,
    – Charterer,
    – Port Authority, if in port,
    – Broadcast URGENCY message to ships in vicinity
    – If at sea, proceed to the nearest port and adhere to instructions from Port authority,
    – Activate Ship Security Alarm System (SSAS)
  9. Contain suspicious or identified bomb with sandbags if availably, or mattresses, and assemble all members farthest
  10. possible away from package, of ashore if in port.

Other Actions:

Perbaharui 26/02/16 | noltime.com

1. Sebutkan tugas dan tanggung jawab anda dikapal (Nakhoda):
Pasal 342 KUHD (TANGGUNG JAWAB NAKHODA)
Secara ekplisit menyatakan bahwa tanggung jawab atas kapal hanya berada pada tangan nahkoda, tidak ada yang lain. Jadi apapun yang terjadi diatas kapal menjadi tanggung jawab nahkoda, kecuali perbuatan kriminal.
Kalau melihat hal tersebut di atas maka secara ringkas singkat tanggung jawab dari seorang nahkoda kapal adalah sebagai berikut :
1. Memperlengkapi kapalnya dengan sempurna
2. Mengawaki kapalnya secara layak sesuai prosedur/aturan
3. Membuat kapalnya layak laut (seaworthy)
4. Bertanggung jawab atas keselamatan pelayaran
5. Bertanggung jawab atas keselamatan para pelayar yang ada diatas kapalnya
6. Mematuhi perintah Pengusaha kapal selama tidak menyimpang dari peraturan perundang-undangan yang berlaku
Tugas Nahkoda kapal yang diatur oleh peraturan dan perundang-undangan yaitu :

continue reading…

Perbarui, 25/02/16 Noltime.com

Panduan Drill dan Checklist; Piracy, Terrorism

  1. Sound Emergency Alarm.
  2. Refer to “Ship Security Procedure” Take evasive action, zigzag course or increase speed.
  3. Sound whistle continuously, switch on deck lightings, train searchlights (if available) and Aldis lamps on attackers.
  4. Turn on fire hoses, direct at attackers with jets, cuts ropes of grappling hooks if used
    Use ship’s parachute rockets and hand flare against attackers.
  5. Lock all entrances to Accommodation and Engine Room except one for eventual crew retreat into accommodation.
  6. Once pirates boarded, retreat to the bridge, lock remaining door.
  7. Prepare Inmarsat C format for automatic distress transmission.
  8. Activate Ship Security Alarm System (SSAS).
  9. Broadcast DISTRESS ALERT and MESSAGE if the ship is in grave and imminent danger and immediate assistance is required, otherwise broadcast an URGENCY message to ships in the vicinity. noltime.com
  10. If attackers armed and imminent threat to lives, surrender and give in to their demands.

Other Actions:

continue reading…

Noltime.com | Di pagi hari ini saya mencoba biasakan jari-jari tangan ini untuk bergerak mengetik beberapa hal yang sedang numpang mampir di pikiran sebelum nanti akan pergi dan lupa, bersamaan dengan sedikit lagi kopi di gelas, maka saya menuangkan dalam sebuah judul tulisan ini…. Apa saja yang ingin diketahui oleh seorang pelaut?… Banyak hal tentu nya.! Salah satu yang ingin saya catat disini adalah mengenai informasi pelabuhan Vungtau-Vietnam yang saya ketahui sedikit dari keseluruhan dan barangkali bermanfaat bagi teman2 pelaut.

continue reading…

 

Updated, 09 April 2014

Untuk keperluan cek ijaza di sini berikut daftar seafarers code :

Nautika

No.  NRP               Seafarer code    Name

1.    20022640                                  AGUS HIDAYAT 18

2.    20022641       6200425237       AGUSTINUS ETTA 18

3.    20022642                                  AHMAD BAYU TRIYATNO 19

4.    20022643       6200403656       ALI HAFID 19

5.    20022639       6200416265       ALMA 21

6.    20022668       6200462060      ANDI RAMADHANSYAH 20

7.    20022644       6200403657      ARNOLDUS EDYSON TAEMNANU 20

8.    20022669                                 ASMUNI MARZUKI 18

9.    20022645      6200403655       ASWENDI 20

10.  20022646      6200410189       AULIAH 18

11.  20022647                                 BERLIAN 18

 

P2TL & DINAS JAGA ( Teori)

1. Sebutkan dengan jelas ketentuan yang diatur dalam STCW Code Chapter VIII, bagi seorang yang akan melakukan tugas jaga navigasi.

Jawab:

Ketentuan yang diatur dalam STCW Code Chapter VIII, bagi seorang yang akan melaksanakan tugas jaga navigasi agar selamat dan aman harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:

Menghindari kelelahan phisik dan mental (fatique)

  • Setiap orang yang diberikan tugas jaga harus mendapatkan waktu istirahat sekurang-kurangnya 10 jam dalam periode 24 jam.
  • Periode istirahat tersebut boleh terbagi tidak lebih dari dua bagian namun salah satunya tidak boleh kurang dari 6 jam. Persyaratan tersebut dapat/boleh menyimpang dalam hal emergency/ kondisi memaksa.
  • Dari 10 jam istirahat yang dipersyaratkan dapat dikurangi, namun tidak boleh kurang dari 6 jam per hari dan pengurangan itu tidak boleh lebih dari 2 hari dan dalam periode 7 hari sekurang-kurangnya diberi istirahat 70 jam.

Menjaga Kebugaran Jasmani dan Rohani

  • Dalam mencegah terjadinya kelelahan sisa waktu untuk istirahat tidak boleh digunakan untuk tugas jaga/tugas berat lainnya.
  • Pemberian kompensasi cuti merupakan faktor-faktor dalam mencegah kelelahan.
  • Untuk kapal-kapal yang pelayarannya berjarak pendek dapat dibuat ketentuan tersendiri.

Menghindari Penyalah gunaan obat-obatan dan alkohol (drugs and alcohol abuse)

  • Rasa putus asa, stress, frustrasi, cemas, kesakitan dan kekhawa tiran yang berlebihan membuat orang mengambil jalan pintas dengan cara meminum obat-obatan/narkotik melebihi dosis yang semestinya.
  • Kebiasaan seorang Pelaut dalam mengisi waktu luang dengan minum-minuman yang memiliki kadar alkohol tinggi sehingga dapat memabukkan.
  • Karenanya Nakhoda mempunyai kewajiban untuk mengawasi Awak kapal yang menyalah gunakan hal-2 tersebut diatas.

2. Bilamanakah seorang Mualim jaga di anjungan dapat bertindak sebagai pengamat seorang diri.

Jawab:

Mualim Jaga dapat sebagai pengamat seorang diri di anjungan bila :

  • Situasi dicermati (Pada siang hari ) tanpa keraguan bahwa tugas jaga memungkinkan dilakukan seorang diri dengan aman.
  • Faktor-faktor relevan yang diperhitungkan tidak terbatas pada :
    – Kondisi cuaca.
    – Jarak tampak.
    – Kepadatan lalu lintas.
    – Perkiraan akan bahaya navigasi.
    – Bernavigasi didekat atau dalam TSS.
  • Bila terjadi perubahan situasi secara tiba-tiba, bantuan segera dapat dihadirkan di anjungan.

3. Apa yang dilakukan Mualim jaga yang sedang bertugas dikapal dalam keadaan berlabuh jangkar.

Jawab:

Mualim yang bertugas jaga harus :

  • Menentukan posisi labuh jangkar pd peta yg sesuai.
  • Secara berkala check posisi kapal,bila mengijinkan.
  • Pengamatan/ronda keliling yg baik secara berkala.
  • Mengamati keadaan cuaca,pasang surut dan ombak.
  • Jika jangkar menggaruk, sgr lapor Nakhoda dan ambil tindakan yg sesuai.
  • Pastikan mesin siap utk olah gerak sewaktu-waktu.
  • Laporkan pd Nakhoda bila jarak tampak memburuk.
  • Siapkan isyarat lampu/bunyi & sosok-2 benda yg wajib diperlihatkan/diperdengarkan sesuai P2TL.
  • Menjaga lingkungan dr pencemaran sesuai Marpol 73/78.

KEAMANAN

PMTC: Pertamina Maritime Training Centre

Kecepatan aman:

Tekanan air terhadap kapal.

Jadikan air sebagai teman, kalau tidak ada air bagaimana kapal bisa mengapung.

Harus mengetahui karakter kapal dan karakter muatan untuk mendapatkan stabilitas yang baik.

Beban yang di ciptakan muatan terhadap kapal, kita perlu tahu.

Kapal itu mempunyai behaviour ada dua:

– diam,

– Bergerak

Diam karena hukum Archimedes,

Berikut adalah sumber yang dapat menjadi referensi:

  1. Untuk keperluan Lapoan pengesian log book dll, cuaca Beaufort Scale.  bisa di lihat di sini: Beaufort Scale
  2. Stasiun Maritim Tg. Priok lihat disini: Tg. Priok
  3. Prakiraan Gelombang Signifikan lihat disini: Peta prakiraan
  4. Prakiraan Swell dapat di lihat disini: Prakiraan Swell

Update: 19/09/2013 Java sea

Perbaharui: 21/02/16 Cula-1, Ujung Kulon Indian Ocean

Offshore North West Java , PHE

  1. If oil spill on board, immediately report to officer on watch, call master/chief engineer.

  2. Stop bunkering, ballasting and cargo preparations, take precautions for inflammable gases and risk of fire.

  3. Alert the oil spill response team, identify the source of oil spill, if necessary use other emergency plan/checklist.

  4. Immediately call the company and brief the incident.

  5. Make oil pollution initial notifications immediately to appropriate shore authorities (coast state, port state, flag state) and local agent/charterer.

  6. Take steps to control oil spill and prevent oil escape overboard. Clean up oil on deck by all means.

  7. Take measures to prevent/control fire risk and prepare lifeboat and lifesaving equipment for emergency.

  8. Make oil spill report soonest to the company.

  9. Follow up status reports to shore authority as appropriate. All actions to be recorded in deck log book/official log book.

  10. Follow up status report to the company at 3 hourly intervals until crisis is over.

  11. Maintain all records of communication time OOW.

Update:  www.noltime.com

Java Sea 24/08/13

Apa yang di maksud dengan istilah Kongsberg SDP-21, Converteam ADP21?

Pada DP System Kongsberg memakai SDP (Simrad Dynamic Positioning) dan pada system lain Converteam memakai ADP (Albatross Dynamic Positioning). Kedua istilah SDP dan ADP ini memakai technologi yg berbeda namun tujuan kerja adalah sama. Pengertian umum dari perbedaan masing – masing yang seperti ditemui dalam pengesian DP log book adalah sbb:

SDP 11 – One Computer, basic system
SDP 12 – One Computer, integrated system
SDP 21 – Two computers, dual redundancy, basic system
SDP 22 – Two computers, dual redundancy, integrated system
SDP 31 – Three computer, triple redundancy, basic system
SDP 32 – Three computers, triple redundancy, integrated system

Smoga bermanfaat. masih kurang apabila ada yang bersedia menerangkan lebih jauh.

Oleh : Mas. Edy

 

Update 20/07/2013 S’pore E’strn anchorage.

Update 06 Jan 2013

By Mas Edy

 

Abandon Dive:
Equivalent to red alert when divers return to the bell immediately and bell is brought back to the surface.

Artemis:
Radio system used to measure vessels position. System operates using a microwave frequency and measures the range and bearing of the vessel from a fixed station that is generally installed on a platform.

Back-up DP:
A physically separate DP control system that will be available in the event of a total failure of the main DP control system.

Beacon:
Free running device on seabed that generates acoustic pulses that are received by the HPR system and used to establish the vessels position.

Blackout:
Loss of all main electrical power.

By mas Edy
Abudhabi, 12 May 2012

Bollard pull:
The towing vessel’s pull normally specified as maximum continuous pull

Bridle towing arrangement:
Two wires or chains of equal length arranged as a triangle that connects the installation to the towing vessel

J-chaser:
Hook used by anchor handling vessels to “fish” the installation’s anchor lines

Kenter link:
Device for linking two chain lengths

Pear link:
Device for linking two different chain dimensions

Pendant:
Wire hanging permanently attached to the installation used for chasing out anchors. PCP (Permanent Chain Pendant)

Pennant wire:
Buoy wire; wire from the seabed up to a buoy on the surface

Permanent chaser:
Ring fitted over the anchor line connected to the pendant wire. Used by anchor handling vessel when hoisting

Swivel:
Connecting link or device used to prevent wire rotation

Toolbox Talk:
A meeting of the individuals due to be involved in an imminent task to review the task, individual responsibilities, equipment required, competency of the individuals, hazards, any Safe Job Analysis or Risk Assessment and/or Permit to Work in place, simultaneous tasks ongoing which may affect the task and any other relevant subject.

continue reading…

Oleh Tim Sukses Pasis 15

Feb, 2011

 

TORSION

Melintir adalah suatu ungkapan untuk menerangkan dampak pada suatu bangunan kapal setelah penempatan DWT ke seluruh bagian nya.

Secara tekhnis dapat di katakan sebagai resultance moment – pelintir yang bekerja mengelilingi sumbu membujur dari kapal. Jika sebuah kapal seharus nya bergerak terputar bebas tetapi terhambat oleh moment tahanannya maka bangunan nya akan terpelintir karena stressnya. Dapat mudah terlihat di daerah kamar mesin, AS baling – baling dalam system putaran baling – baling untuk kapal berlayar.

Untuk umumnya kapal tidak mudah terpengaruh dengan aksi – aksi pemuatan bobot walapun semua kapal bisa saja terpelintir karena gelombang laut yang dinamis itu.

Terutama pada kapal – kapal container dalam keadaan keselamatan dan di haruskan untuk:

a. Berlayar tegak atau hampir tegak karena alasan – alasan kenyamanan dan keamanan sesaat/sejenak.

Moment kiri ~ moment kanan.

b. Muatan dalam container kelihatan nya simetris dalam bay row dan tiers. Secara Moment tidak begitu, misalnya moment kiri dari bay 01 terimbangi dengan moment kanan dari katakanlah bay 14.

continue reading…